Selasa, 26 Februari 2013





SELAYANG PANDANG








INDONESIAN YOUTH FOR EDUCATION (IYE)

“Education, Educate, Educated”
A.     LatarBelakang

Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki laut yang ditaburi oleh pulau-pulau.Negara kepulauan yang 2/3 wilayah negaranya adalah laut. BerjutaPotensi yang apabila dimaksimalkan akan menjadikannegeri ini jauh dari kemiskinan dan kebodohan. Dua penyakit ini sudah cukup mengakar di berbagai wilayah di Indonesia. Pernahkah kita berhenti sejenak memikirkan kondisianak-anak pulau di ujung Indonesia sana? Bagaimana masa depan mereka? Apa kontribusi kita untuk mereka? Ataukah kita sengaja untuk tidak mau tahu?Silahkan tanyakan hati kecil kita.


Mari sejenak kita meluangakan waktu membaca kondisi pendidikan di negeri ini.“Penurunan peringkat Indonesia dalam indeks pembangunan pendidikan untuk semua pada tahun 2011,Salah satunya disebabkan tingginya angka putus sekolah di jenjang sekolah dasar.Sebanyak 527.850 anak atau 1,7persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah setiap tahunnya.” (Sumber: Kompas.com)

…Sayangnya, di
Tengah kenaikan anggaran pendidikan dan besarnya perhatian pemerintah terhadap pedidikan dasar dan menengah, masih terdapat anak Indonesia yang putus sekolah. Kita tercengang mengetahui jumlah anak SD sampai SMA yang putus sekolah pada 2010 mencapai 1,08juta. Angka itu melonjak lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 750.000 siswa. Tak hanya itu, masih ada 3,03juta siswa yang tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, SMA, dan perguruan tinggi… (Sumber: SuaraPembaruan).

…Elih Sudiapermana, head of the ministry’s learning and education participants sub-directorate, said that at least 30 percent of newly literate students were believed to have difficulty maintaining their reading and writing skills due to limited access to education and reading material.“The money available for national literacy eradication programs is very limited. This is why we must work together with community based organizations as well as those concerned across the country. It is impossible for us to fight illiteracy unless we work together,”… (Sumber: Jakarta Post)

Itulah sekilas tentang pendidikan di negeri ini.Ini yang sempat diliput media, tapi kami yakin dan percaya kenyataan di lapangan, di pulau terluar Indonesia, anak-anak di perbatasan, anak-anak di daerah terpencil bahkan anak-anak yang hidup di rimba sana. Banyak pula yang masa depannya menjadi suram karena kebingungan mau membuka jalan masa depannya.

Isu putus sekolah adalah salah satu isu terhangat yang seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kita. Setidaknya ada empat persoalan yang membuat angka putus sekolah masih cukup tinggi. Pertama, kemiskinan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2011, terdapat 30,02juta orang miskin atau hanya turun 1 juta orang disbanding tahun sebelumnya. Kemiskinan jelas menjadi momok dalam dunia pendidikan. Program sekolah gratis untuktingkat SD dan SMP yang didengungkan pemerintah, ternyata belum sepenuhnya terealisasi.Di  sana-sini masih terdengar kabar maraknya pungutan liar (pungli) terhadap siswa baru. Demikian juga saat kenaikan kelas, masih saja ada sekolah yang memungut sejumlah uang dari siswa. Belum lagi untuk pembelian buku dan lembaran kerja siswa (LKS), meski pemerintah memiliki program BOS buku dan buku sekolah elektronik (BSE). Semua itu membutuhkan biaya tak sedikit dan pasti sulit dipenuhi keluarga miskin.

Kedua, minimnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan, terutama pada  keluarga miskin. Selama ini mereka hanya  berpikir pendek untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak heran bila anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin justru “dikaryakan” orangtuanya di berbagai sektor informal. Saat jam-jam sekolah, terlihat anak-anak mengamen di jalanan, mengemis, atau membantu orang tua di kebun dan laut. Padahal, pendidikan merupakan jalan emas menuju perbaikan kualitas kehidupan.

Ketiga, kondisi geografis yang menjadi kendala anak-anak bersekolah. Di kawasan timur Indonesia, ada banyak anak yang harus berjalan berpuluh kilometer atau berperahu mengarungi lautan agar bisa sekolah. Kondisi geografis yang tak menguntungkan itu membuat sebagian anak lebih senang berdiam di rumah daripada menimba ilmu di sekolah.  

Keempat, alokasi anggaran pendidikan yang tak tepat sasaran dan minim pengawasan. Peningkatan anggaran pendidikan yang signifikan ternyata belum diikuti pemanfaatan yang tepat. Sebagian besar anggaran pendidikan justru lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan birokrasi, daripada meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana-prasarana pendidikan.


B.      Introduction to Indonesian Youth for Education (IYE)

Indonesian Youth for Education (IYE) adalah organisasiyang terdiri dari generasi muda yang berbagi kepentingan bersama dalam pengembangan pendidikan (terutama anak-anak) di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tanggal 30 Mei 2011 oleh para alumni Indonesian English Language Study Program (IELSP) yang belajar di Iowa State University. Ini akan menjadi media untuk   membantu mengatasi kesulitan masyarakat di daerah terpencil memiliki fasilitas pendidikan yang baik atau bahkan pergi ke sekolah.Konsep organisasi ini adalah mengajar, menyediakan perpustakaan kecil, mempromosikan budaya lokal dan membangun pendidikan lingkungan. Selain itu,ada program untuk membantu anak-anak potensial mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mereka lebih baik. Mari kita berpartisipasi untuk menciptakan generasi yang lebih baik melalui pendidikan sebagai moto IYE “Education. Educate. Educated” (Pendidikan,Mendidik,Berpendidikan).

Visi :
Menjadi organisasi pemuda profesional yang secara aktif melibatkan dan memberikan kontribusi untuk pengembangan pendidikan di Indonesia.

Misi :
-Membuat
perbaikan berdampak dan  berkelanjutan untuk pendidikan di Indonesia
-Membuat dan
mengembangkan generasi muda untuk menjadi seorang pendidik yang baik dan pemimpin.
-Bertindak
sebagai media untuk mengatasi kesulitan banyak orang (terutama anak-anak) dalam pendidikan.
-Menjadifasilitator
untuk merawat aktualisasi pada perbaikan pendidikan.
-Memperkenalkan
dan melestarikan warisan budaya lokal

Nilai-nilai:Kemanusiaan, Nasionalisme, Tanggung jawab sosial, Integritas, Profesionalisme, Kreativitas
dan Kepemimpinan


C.      Introduction to Sahabat Pulau Project.

Deskripsi Project :

       "Sahabat Pulau" adalah salah satu project dari Indonesian Youth for Education. Sahabat Pulau ini merupakan gerakan yang dimulai untuk memaksimalkan potensi pemuda untuk ambil bagian dalam membuat perubahan pada berbagai masalah di negeri ini, terutama di bidang pendidikan. Kami menyadari bahwa kenyataan hari ini adalah impian kemarin dan kami ingin membantu saudara-saudara kita harus berani untuk memiliki impian dan kemu-dian mewujudkan impiannya.
          Pemerintah Indonesia hanya menghabiskan sekitar 20% dari APBN. Dan kita bisa membayangkan bahwa nilai ini tidak akan mampu menutupi kebutuhan pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Indonesia terdiri dari lebih dari 250 juta orang, dan karena 2011, ada 30 juta siswa yang putus sekolah. Itulah sebabnya Indonesia membutuhkan individu dan organisasi yang dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
          Sahabat Pulau benar-benar sebuah gerakan sederhana, tapi kami yakin itu akan berpotensi membuat Indonesia lebih baik. Dengan kegiatan “One Youth for One Child” (Satu Pemuda untuk Satu Anak), desain proyek ini akan dijalankan melalui seorang pemuda yang merawat anak Indonesia. Target kami adalah untuk membantu anak-anak yang harus berhenti pendidikan SD, SMA seperti primer dan senior. Kami menyadari bahwa pendidikan dasar sangat penting. Kemudian jika seorang anak tidak memiliki keterampilan dasar yang kebanyakan diajarkan di pendidikan SD, itu akan sangat sulit bagi mereka untuk bertahan hidup dalam kehidupan masa depan mereka yang membutuhkan keterampilan dasar praktis.
Kegiatan dalam project sahabat pulau :
-          One Youth for One Child
          Untuk menggambarkan kegiatan One Youth for One Child, misalnya Budi yang tinggal di Jakarta menjadi Kakak Asuh untuk Aminah yang tinggal di Padang. Budi, sebagai Kakak asuh, dia memiliki beberapa peran sebagai mentor, motivator atau bahkan donatur untuk Adik Asuhnya. Cara mereka berkomunikasi akan mulai dengan mengirim surat satu sama lain. Kami mengambil ide ini dari "Sahabat Pena", program yang ada di Indonesia beberapa tahun lalu. Nilai semangat menulis akan menjadi misi kami dalam proyek ini. Selain itu, kami akan mendorong Kakak Asuh, untuk tidak hanya mengirim surat tetapi juga mengirim fasilitas yang dapat mendukung kebutuhan sekolah Adik Asuh mereka, seperti buku, seragam bekas, atau tabungan bulanan. Mereka dapat menyumbangkan bulanan sebanyak yang mereka bisa, seperti Rp5.000 - Rp 100.000 per bulan.
-          Rumah Baca Harapan (RuBaH)

RuBaH berarti semangat agen perubahan. Kami dalam proyek ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan konsep "Pendidikan dan Kebudayaan" sebagai cara untuk mempromosikan Bahasa Inggris untuk anak-anak dan melestarikan budaya lokal seperti tarian tradisional, permainan dan instrumen. Selain itu metode kami menerapkan Pendidikan Karakter untuk menciptakan sikap siswa cerdas, kreatif dan besar. Proyek ini akan menerapkan minimal satu di setiap provinsi. Saat ini Rumah Baca Harapan telah didirikan di :
1.     Garut, Jawa Barat
2.    Jakarta Pusat, DKI Jakarta
3.    Medan, Sumatera Utara
4.    Purbalingga, Jawa Tengah
5.    Pinrang, Sulawesi Selatan
6.    Bulukumba, Sulawesi Selatan
7.    Sidrap, Sulawesi Selatan
8.    Enrekang, Sulawesi Selatan
Dan rencana akan didirikan di Pangkep, Maros (Sulawesi Selatan), Polewali Mandar,Mamuju (Sulawesi Barat) dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.
-          Indonesia Youth Volunteer, Acara ini akan dilaksanakan di Makassar,Sulawesi Selatan direncanakan pada bulan Juli 2012.
Siapa-siapa saja yang terlibat :
Team members dari Project Sahabat Pulau ini adalah teman-teman dari organisasi Indonesian Youth for Education yaitu kolaborasi dari:

1.     alumni Indonesian English Language Study Program(IELSP),
2.    alumni Youth and Exchange Study (YES),
3.    alumni Kapal Pemuda Nusantara (KPN),
4.    PurnaCarakaMuda Indonesia (PCMI),
5.    CIMB Niaga Scholarship Community
dan pemuda Indonesia lainnya yang peduli terhadap masalah pendidikan.

Ikut  bergabung membantu pemerinta mengembangkan pendidikan di indonesia...
saatnya pemuda indonesia bergerak menumbuhkan semangat pendidikan di Indonesia....

0 komentar :

Posting Komentar